Dua Target Tahun Monyet Api



Gong Xi Fa Cai
Semoga Perayaan Tahun Baru Kali Ini Lebih Menyenangkan.
Akhir januari lalu saya menulis target untuk satu tahun ke depan. Salah dua target tersebut berhubungan dengan tulis menulis. Target pertama adalah membuat blog dan memposting tulisan di sana setiap minggu. Target ke dua adalah cerpen yang saya tulis dimuat di media. Keduanya saya maksudkan agar terus semangat untuk latihan menulis.

Memposting tulisan sekali seminggu saya maksudkan untuk melatih disiplin menulis. Katanya pak Dukut Imam Widodo, menulis itu membutuhkan disiplin yang tinggi. Beliau bercerita di acara kuliah umum yang diadakan teman-teman FLP minggu kemarin dengan tema Dare To Be Writer Preneur bahwa beliau punya kebiasaan menulis setelah solat tahajjud sampai masuk waktu subuh tanpa absen sehari pun. Hal itu beliau lakukan sudah bertahun-tahun, padahal setiap hari beliau harus bekerja di kantor dari pagi sampai malam selama 15 jam. Jadwal tersebut cukup berat bagi saya yang pemalas ini. Saya membayangkan kapan istirahat, nonton TV, santai-santai? Di sini saya menemukan cela saya. Ingin maju kok masih melihara malas? Ada lagi pak dosen UIN Malang yang dulu, pak Imam Suprayogo. Beliau menargetkan dirinya minimal menulis satu artikel setiap hari. Semakin jelas sudah sifat malasku ini. Ketahuan sudah.

Saya sudah menemukan satu kebiasaan buruk saya, karena itu saya ingin merubahnya. Saya butuh strategi untuk meninggalkan kebiasaan buruk ini Step by step. Saya jadi ingin memiliki disiplin seperti beliau. Latihannya mulai dari yang ringan-ringan dulu. Sakali posting per minggu. Kalau sudah lancar saya ingin mencoba yang intensitasnya lebih sering lagi. Ibaratnya masih bayi yang belum bisa berjalan. Jadi belajarnya merangkak dulu, setelah itu belajar berdiri, kemudian menggerakkan kaki satu-satu, lalu bisa berjalan, dan seterusnya bisa berlari bahkan sampai melompat. Proses itu pasti tidak akan mulus. Akan ada saat kita terjatuh bahkan bisa jadi terluka. Tetapi ketika terjatuh anak kecil akan menangis sebentar, nantinya mereka sudah mencoba lagi. Pelajaran dari adik bayi, tak pernah menyerah, terus mencoba untuk bisa.

Pertama kali saya dibelikan sepeda oleh orang tua, saya belajar seharian. Mulai dari masih dipegang teman, kemudian dilepas pelaln-pelan. Pernah juga mereka diam-diam melepas pegangan padahal saya belum benar-benar bisa menjaga keseimbangan sehingga menabrak pagar, terjungkal, dan menemkan diri berendam di selokan. Sakit sekali, tetapi setelah ganti pakaian lanjut lagi latihannya sampai hari itu saya bisa mengendarai sepeda. Tak puas hanya bisa mengendarai, hari selanjutnya saya latihan melepas satu tangan, dua tangan, dengan nabrak-nabrak sambil jatuh. Semangat sekali kan?

Adikku yang paling bontot juga sama. Hari itu juga, setelah mendapatkan sepeda pertamanya, dia belajar bersepeda sampai sorenya menjelang magrib dia berhasil. Setelah pulang ngaji, dia keluarin lagi sepedanya den muter-muter di jalan depan musolla sampai jam sepuluh malam. (Pocong dan kuntilanak sampai terbengong bengong. Ada lagi si tuyul, mereka sih seru-seru saja lari-lari di belakangnya sambil sorak-sorak merayakan keberhailan adikku). Bagian yang di dalam kurung hanya fiktif belaka.

Lanjut ke target kedua, cerpen dimuat media. Tujuannya adalah untuk melihat kualitas tulisan. Cerpen yang dimuat media kan pasti yang memiliki nilai lebih. Maksudnya media tersebut pasti punya standar. Kalau karya kita sudah nampang di media artinya karya tersebut sudah diakui kualitasnya. Kalau pun belum artinya kita perlu pelajari lagi standarnya dan menarik kualitas tulisan tersebut naik melewati standar media.

Beberapa cerpen saya persiapkan untuk dikirim ke media, salah satunya cerpen lama yang saya rombak total khhususnya dari sudut pandangnya. Semula dari sudut pandang anak kecil menjadi sudut pandang anak remaja. Agak kesulitan juga melihat dari sudut pandang anak kecil. Soalnya beban hidup sebagai orang dewasa membuat saya lupa-lupa ingat rasanya menjadi anak kecil. Kalimat terakhir ini saya becanda. Saya masih muda, cute, amit-amit.

Doakan karyaku dimuat media ya.

Hilal Imtiyaz

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar