Tradisi Muda-Mudi 1-Midang

Kali ini mau cerita beberapa tradisi di kampung saya, khususnya berkaitan dengan muda-mudi. Beberapa masih bisa kita lihat sampai sekarang. Beberapa lagi sudah punah. Tidak sembarangan cewek cowok bisa ketemu, ngobrol, becanda, berduaan. Harus sesuai dengan aturan. Tradisi atau aturan-aturan sudah disiapkan sejak dulu oleh pendahulu kita. Meski tidak semua tradisi baik, yang bermanfaat dan baik tentulah perlu untuk dipelihara. Seperti hubungan muda-mudi saat ini yang sduha kebablasan. Pacaran sembarangan, belum nikah sudah pegang-pegang. Melihat hal semacam ini, tentulah wajar kita mengatakan bahwa tradisi pendahulu kita lebih baik dari yang sekarang.


Midang
Midang itu adalah ngapelin pacar. Kalau mau ketemu dan ngobrol dengan pujaan hati, cara yang bisa dilakukan salah satunya dengan midang. Ini salah satu sarana agar cowok cewek tidak sembarangan dalam mengekspresikan rasa cintanya. Ada sedikit aturan main yang berbeda di sini. Terutama masalah waktu, tata caranya, dan isyarat-isyarat yang harus diperhatikan.
Waktunya dimulai sehabis solat magrib, ketika imam dan jamaah solat magrib di musola setempat sudah merampungkan zikir dan doa sesudah solat. Kalau berkunjung sebelum itu, bisa jadi si cowok ini kena sindir. Tentu saja sebagai calon menantu harus menunjukkan pribadi yang baik, rajin solat dan berdoa. Kalau rumah si cowok jauh, umpamanya dari luar desa, lebih bagus solat di masjid dekat rumah si cewek supaya waktu ketemuna lebih lama, ngobrolnya bisa lebih luwes, dan supaya tidak kedahuluan cowok lain. Sebelum azan isya, acaa midangnya harus sudah selesai. Kalau tidak, ortunya si dia mendeham-deham, artinya time up. Cowok harus mengerti kode ini. Kalau tetap ngeyel tidak mau udahan, terpaksa ortunya akan keluar dan menegur, “Nak, udah dulu ya, sudah masuk waktu isya.” Sebagi calon menantu yang baik, tunjukkan bahwa dirimu mengerti sopan santun. Segeralah pamit sebelum azan berkumandang.
Ketika datang ucapkan salam, perkenalkan diri, dan mohon izin untuk bertemu dengan putrinya. Masuklah rumah dan duduk setelah dipersilahkan. Ortunya akan memanggil si dia jika kamu sudah menunjukkan sopan santun. Kalau si cewek sudah keluar menemuimu, perhatikan hal-hal berikut ini. Jarak duduk jangan dekat-dekat, supaya kalau ngobrolnya keseruan bisa menjaga gerakan tangan yang reflex supaya tidak bersentuhan, apalagi pegang pegang. Jaman dulu, generasi ayah atau kakek kita, kalau ngapel, posisi duduk cowok dekat pintu masuk, sedangkan cewek duduknya pojok ruangan.
Selanjutnya jangan sia-siakan waktu, apalagi kalau dia bunga desa, bakal ada banyak cowok yang ngantri. Sebagai cowok yang gentleman, kamu harus memberinya waku juga. Prinsipnya itu cewek boleh dipilih oleh banyak cowok, tapi cewk berhak juga untuk menentukan pilihan yang terbaik di antara cowok yang memilihnya. Cowok harus berbesar hati kalau tidak menjadi pilihan. Karena waktunya sedikit, ungkapkan apa yang kamu rasakan. Jangan hanya diam, karena selai waktunya semakin lama semakin habis, maksud dihati tidak bisa tersmpaikan, nanti suasana seperti kuburan.
Pernah, cerita ini dari sepupuku, pergi midang. Ketika cewknya sudah keluar dan duduk bersama, taka ada satu katapun yang keluar, kopi yang dihidangkan sudah habis, azan isya sebentar lagi berkumandang, terpaksa dia pamit tanpa satu patah katapun yang keluar. Malam berikutnya dia dating dengan kawannya. Mungkin maksudnya supaya suasananya tidak setegang saat sendiri. Benar saja, suasananya cair, tetapi yang cair temannya dengan ceweknya, dia sendiri tetap beku. Diam-diam cewknya titip salam lewat temannya ini sama titip pertanyaan juga kayak gini “kok bajang (pemuda) itu pendiam sekali, ndak pernah ngomong?”
Topik pembicaraan tidak harus melulu tentang cinta. Basa basi dulu, tambah ada humurnya, tapi jangan sampai ketawa terbahak-bahak. Ingat, setiap gerak-gerik cowok akan memiliki nilai sendiri bagi ortunya. Mendapatkan hati anaknya akan lebih mudah jika sudah mendapatkan hati ortunya. Bagian terakhir, berpamitanlah pada ortunya kalau hendak balik.
Tradisi-taradisi yang lain menyusul ya!

Hilal Imtiyaz

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar